Loading...

Cari Blog Ini

Memuat...
Loading...

Selasa, 13 Maret 2012

Pendidikan Karakter dalam Cita dan Realita



Menarik mengikuti perdebadatan tentang pendidikan karakter yang dimuat oleh redaksi Haluan. Perdebatan ini diawali ketika Darman Moenir me­nulis artikel tentang “Hentikan Program Pendidikan  Ber­karakter” (Haluan, 26/12/2011).
Tulisan yang di­sam­paikan oleh Darman Moenir kemudian mendapat tang­gapan dari Prof. Dr. H. Azmi, MA dengan tulisannya ber­judul “Pen­didikan Karakter, Masihkah Perlu?” dan di­lanjutkan de­ngan tulisan Henmaidi, PhD  tentang “Jebakan dalam Penye­leng­garaan Pendidikan Ka­rakter” serta tulisan Karsa Scorpi tentang “Pendidikan Ber­karakter Harus dengan Karak­ter Pendidikan” (Haluan, 04/01).
Tulisan yang disampaikan oleh Darman Moenir, Prof. Azmi, Henmaidi, serta Karsa Scorpi menarik untuk di cermati sambil di renungkan pesan ataupun makna yang disampaikan oleh para penulis, sehubungan dengan pen­di­dikan karakter yang akhir-akhir ini menjadi per­bin­cangan hangat dikalangan pemerintah serta pemerhati pendidikan di negeri ini.
Munculnya pemikiran un­tuk menggalakkan pendidikan karater tak bisa dilepaskan dari keterpurukan yang di­alami oleh bangsa Indonesia beberapa tahun telakhir. Munculnya krisis moral serta penyakit-penyakit sosial lain­nya, seperti korupsi yang kian subur, pelanggaran HAM, dis-integrasi antar agama, ta­wuran pelajar, mahasiswa, dll. Fenomena itu menandakan bahwa bangsa kita sedang mengalami keterpurukan karakter. Karena itu agar tidak masuk jurang yang lebih dalam maka penting me­lakukan penyelamatan ter­lebih dahulu dengan mem­perbaiki karakter bangsa ini, melalui dunia pendidikan.
Namun dalam pemikiran pemerintah untuk me­wujud­kan program pendidikan ka­rakter  maka perlu dilakukan beberapa tahapan mulai dari semacam riset, seminar dan workshop, dll. Persoalan ini lah yang membuat budayawan Darman Moenir antipati  hingga menyampaikan tulisan “Hentikan Program Pen­di­dikan Berkarakter”. Saya pikir sebenarnya beliau bukan tidak menghendaki adanya pendidikan karakter dalam dunia pendidikan kita, tapi justru yang membuat beliau antipati karena program yang dilakukan oleh pemerintah cenderung hanya untuk meng­hambur-hamburkan anggaran. Padahal persoalan yang di­hadapi oleh bangsa ini sudah jelas. Saya sepakat dengan pendapat beliau.
Memang problem pen­didikan kita hari ini sangatlah konfleks. Pendidikan di negeri ini cenderung kepada ranah kognitif saja, dengan me­ngenyampingkan ranah afek­tif. Sehingga keberhasilan pen­didikan selama ini lebih diukur dengan menggunakan angka-angka yaitu tingkat kelulusan UN. Padahal dalam melaksanakan UN banyak terjadi kecurangan-ke­cu­ra­ngan, seperti guru yang be­rusaha untuk membantu siswa dalam menjawab soal-soal ujian. Sehingga dalam proses pelaksanaan UN  terkesan jauh dari nilai-nilai kejujuran.
Tanpa kita sadari proses ini sudah berlangsung sejak lama dan telah merusak hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Makanya tidak bisa dipungkiri karakter bang­sa ini pun kian merosot tajam. Siswa sebagai generasi pe­nerus bangsa diharapkan menjadi agen of change untuk masyarakat dan negara di­masa yang akan datang telah terlebih dahulu dirusak ka­rakternya di dalam dunia pendidikan.
Makanya pendidikan ka­rakter menjadi isu utama pendidikan hari ini. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Di lingkungan Ke­m­diknas sendiri, pendidikan karakter menjadi fokus pen­didikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinanya. Tidak kecuali di pendidikan tinggi, pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian yang cukup besar.
Kita memang mem­butuh­kan pendidikan karakter untuk kondisi sekarang ini. Namun pendidikan karakter yang dimaksud bukan dengan sistem menambahkan mata pelajaran baru pada siswa. Apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Azmi, MA dalam tulisannya bahwa semua kegiatan belajar di sekolah adalah wahana pembelajaran karakter, menurut hemat saya itu sangat benar. Setiap kegiatan belajar, IPA, IPS, Matematika dan Bahasa dapat diselipkan pendidikan karakter, seperti pendidikan bekerjasama, saling meng­hormati, berbicara lemah lembut dan berlaku jujur antar sesama, dll.
Memang tanpa kita sadari selama ini sistem pendidikan kita sering mengkotak-kotak­kan mata pelajaran. Misalnya, kalau mata pelajaran mate­matika, guru hanya akan bica soal matematika saja dan mengesampingkan bicara soal akhlak dan budi pekerti. Karena pelajaran yang ber­hubungan dengan budi pekerti dan akhlak itu sudah ada didalam pelajaran pendidikan agama dan kewarganegaraan. Nota bene mata pelajaran tersebut hanya diajarkan 1 kali pertemuan dalam 1 minggu. Kondisi demikian tidak mengherankan kalau banyak siswa yang pintar (genuius) dalam pelajaran eksakta namun ternyata mi­nus karakter.

Pentingnya Peran Agen Sosialiasi

Menurut ahli sosiologi George Herbert Mead bahwa setiap orang harus mem­pelajari peran-peran yang ada di dalam masyarakat yaitu suatu proses yang dinamakan pengambilan peran. Dalam proses ini seseorang belajar untuk mengetahui peran yang harus dijalankan serta peran yang harus dijalankan orang lain. Jadi diri seseorang terbentuk melalui interaksi dengan orang lain.
Karena itu berbicara ma­salah pendidikan karakter maka yang menjadi hal paling penting adalah perlunya so­sialisasi yang intens yang dilakukan oleh agen sosialiasi, seperti: Pertama, peran ke­luarga. Keluarga merupakan lingkungan utama yang di­kenal oleh anak. Agen so­sialisasi di lingkungan ke­luarga meliputi orang tua, saudara kandung bahkan untuk lingkungan besar ter­masuk kakek, nenek, paman, bibi, dan sebagainya. Di samping itu bagi keluarga yang memiliki status sosial yang lebih baik, agen so­sialisasi termasuk, pekerja sosial, petugas anak, pem­bantu dan sebagainya. Peran agen sosialisasi terutama orang tua sangat penting. Arti pentingnya agen sosialisasi terletak pada pentingnya kemampuan yang harus di­kerjakan kepada anak.
Kedua, teman bermain (lingkungan sosial). Anak mulai bergaul dengan ling­kungan selain keluarganya. Misalnya, tetangganya atau teman sekolahnya, berarti anak menemukan agen so­sialisasi yang lain. Pada lingkungan ini seorang anak mempelajari berbagai ke­mam­puan baru, dia melakukan interaksi sosial sederajat, anak memasuki game stage yaitu mempelajari aturan yang mengatur peran orang lain yang kedudukannya sederajat.
Ketiga, lingkungan sekolah. Di lingkungan sekolah atau pendidikan formal seorang anak mulai mempelajari hal-hal baru yang belum dipelajari dalam lingkungan keluarga maupun kelompok bermain. Pendidikan formal mem­persiapkan penguasaan peran-peran baru yang akan di­gunakan di kemudian hari, pada saat anak tidak ter­gantung pada orang tua lagi. Di lingkungan sekolah, se­seorang belajar bahasa (men­dengarkan berbicara, mem­baca dan menulis), belajar matematika, ilmu penge­tahuan sosial dan pelajaran lain-lain. Di lingkungan se­kolah, para siswa belajar kemandirian, prestasi, umum dan khusus.
Keempat, Media masa. Media masa, baik media cetak (surat kabar, majalah) mau­pun elektronik (radio, televisi, film, internet) merupakan bentuk komunikasi yang di­kata­gori­kan sebagai agen sosialisasi. Pesan-pesan yang dis­am­paikan baik melalui surat kabar, majalah, radio, televisi, film dan internet akan mem­pengaruhi perilaku seseorang. Misalnya, anak mengikuti gaya mode dan penampilan para artis, dll.
Agen sosialiasi yang telah dijelaskan diatas menurut hemat penulis sangat penting perannya untuk mendudukung terlaksananya pendidikan karakter. Ketika salah satu agen sosialiasi tidak berfungsi dengan baik, maka mustahil akan tercipta pendidikan karakter yang selama ini diimpikan bersama. Misalnya, seorang anak diajarkan ber­buat jujur, berkata lemah lembut, serta saling mengor­mati antara sesama, tetapi ketika anak tidak men­dapat­kan pendidikan seperti itu dirumah maka apa yang di­ajarkan oleh guru disekolah akan menjadi sia-sia. Karena anak mendapatkan per­laku­kan yang berbeda.
Akhirnya  pendidikan karakter tidak hanya bisa dibebankan kepada pihak sekolah (guru) maupun pe­merintah melainkan harus menjadi tanggungjawab ber­sama,. Sekali lagi penulis ingin menyampaikan untuk me­wujudkan pendidikan ka­rakter harus dilakukan so­sialisasi yang intens oleh agen so­sialiasi, kalau tidak maka yakinlah pendidikan karakter hanya akan sebatas pada cita bukan realita. Hal ini tentu tidak kita kehendaki bersama. Wallohu’aklam Bishowab.

0 comments:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Best Buy Printable Coupons