Loading...

Cari Blog Ini

Memuat...
Loading...

Minggu, 20 Januari 2013

MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH BERBASIS KARAKTER TERPUJI


MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH BERBASIS KARAKTER TERPUJI (1)
Oleh : Drs. Nur Kholiq,M.Pd
A. Pendahuluan

Dewasa ini perhatian pemerintah dicurahkan untuk menjadikan sekolah-sekolah memiliki kualitas yang lebih baik. Kualitas tersebut tidak saja tertuju pada kemampuan yang bersifat kognitif, tetapi lebih dari itu adalah pada kualitas yang bersifat afektif dan psikomotorik yang berupa aspek sikap dan perilaku. Untuk memenuhi kepentingan tersebut, pemerintah Republik Indonesia, melalui Presiden Susilo Bambang Yudoyono, pada tanggal 11 Mei tahun 2010; telah mencanangkan gerakan nasional pendidikan karakter. Melalui gerakan tersebut pemerintah berusaha mengembalikan pendidikan pada khiththahnya, yang meliputi ketiga asepeknya, yitu kognitif, afektif, dan psikomotorik secara konsisten.
Para pembuat kebijakan di bidang pendidikan, demikian juga dengan masyarakat secara keseluruhan, menginginkan anak-anak yang telah selesai dari suatu jenjang pendidikan tertentu tidak hanya memperoleh kebanggan dalam pretasi akademiknya, tetapi lebih dari itu adalah prestasi dalam sikap dan perilakunya. Selama ini, kekurangan dan sekaligus merupakan kelemahan dari para lulusan adalah belum atau tidak tercapainya tuntutan yang kedua. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, sudah pada tempat dan waktunya, apabila sekolah-sekolah mengupayakan dan melakukan pembudayaan karakter di lingkungannya.
Pemerintah sekarang memang sedang giat-giatnya berbicara pentingnya pembentukan karakter. Akan tetepi, menurut Komaruddin Hidayat (2010), tanpa budaya sekolah yang bagus akan sulit melakukan pendidikan karakter bagi anak-anak didik kita. Jika budaya sekolah sudah mapan, siapa pun yang masuk dan bergabung ke sekolah itu hampir secara otomatis akan mengikuti tradisi yang telah ada. Contoh yang paling nyata adalah budaya bersih dan hidup tertib di Singapura. Tidak hanya sebatas school culture, di sana bahkan sudah tumbuh city culture, yang antara lain ditandai hidup bersih, budaya antri, dan disiplin. Orang Indonesia yang tidak terbiasa hidup bersih dan disiplin berlalu lintas, begitu masuk Singapura tiba-tiba menjadi berubah, menyesuaikan dengan kultur yang ada. Budaya sekolah, atau lebih luas lagi budaya pendidikan, dengan demikian menjadi pijakan yang kuat bagi pembentukan karakter siswa.
Sebuah budaya mengasumsikan kehidupan yang berjalan natural, tidak lagi dirasakan sebagai beban. Karena itu, merancang budaya sekolah mesti memikirkan dan menyiapkan pula kehidupan seni dan olahraga serta ruang kebebasan kreasi anak. Dengan demikian, proses pendidikan dan beban kurikulum sekolah tidak dirasakan sebagai beban, melainkan tantangan layaknya dalam sebuah permainan olahraga yang penuh semangat, tetapi tetap ada wasit ataupun peraturan baku.Wasit yang baik adalah kesadaran menjaga mutu permainan yang datang dari para pemain sendiri, yaitu semua warga sekolahnya.
Masa-masa sekolah adalah sebuah formative years, masa pembentukan karakter yang sangat menentukan fondasi moral-intelektual seseorang seumur hidupnya. Anak-anak yang sukses di bangku kuliah akan sangat ditentukan bagaimana kualitas dan kebiasaan belajar serta hidupnya di usia sebelumnya. Siapa saja anak-anak yang akan sukses di sebuah perguruan tinggi sudah mulai terbaca dengan mengamati asal-usul sekolahnya dan hasil seleksi masuknya. Dalam hal karakter, perguruan tinggi hanyalah kelanjutan dari apa yang sudah terbentuk sebelumnya. Perguruan tinggi memang berhasil mewisuda mahasiswanya sebagai seorang sarjana, namun saya ragu, benarkah sistem perkuliahan yang ada mampu membentuk karakter seseorang?, demikian dinyatakan Komaruddin Hidayat (2010). Pembangunan sekolah terberat justru terletak pada membangun kultur sekolah ini, karena selain membutuhkan dana yang tidak sedikit, juga membutuhkan daya tahan kesabaran, keuletan, persisistensi, dan konsistensi dari seluruh pemangku kepentingan di sekolah yaitu kepala sekolah, guru, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.


B. Apa itu Budaya Sekolah?

Pandangan tentang apa itu budaya sekolah sudah sejak beberapa tahun silam dilontarkan. Pada tahun 1932 misalnya, Willard Waller (Peterson dan Deal, 2009: 8) menyatakan bahwa setiap sekolah memunyai budayanya sendiri, yang berupa serangkaian nilai, norma, aturan moral, dan kebiasaan, yang telah membentuk perilaku dan hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya. Sementara itu, Short dan Greer (1997) mendefinisikan budaya sekolah sebagai keyakinan, kebijakan, norma, dan kebiasaan di dalam sekolah yang dapat dibentuk, diperkuat, dan dipelihara melalui pimpinan dan guru-guru di sekolah. Budaya sekolah, dengan demikian, merupakan konteks di belakang layar sekolah yang menunjukkan keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang telah dibangun dalam waktu yang lama oleh semua warga dalam kerja sama di sekolah. Budaya sekolah berpengaruh tidak hanya pada kegiatan warga sekolah, tetapi juga motivasi dan semangatnya.
Para orang tua/wali dan siswa selalu dapat mendeteksi secara tepat semangat yang ada di sekolah. Para orang tua/wali memasukan anak-anak mereka ke suatu sekolah pada umumnya karena mempertimbangkan dan memperhatikan budaya yang telah tertanam di sekolah-sekolah terseut. Para siswa pun dapat dengan cepat merasakan budaya sekolahnya karena mereka menjadi bagian dari lingkungan sekolah tersebut. Mereka pun mengetahui dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk, sesuai dengan nilai, norma, dan kebiasaan yang telah berlaku di lingkungan sekolahnya.
Para guru dan karyawan ketika memasuki wilayah sekolah, pun segera akan menyesuaikan diri. Mereka dengan sadar dan spontan mengikuti nilai, norma, kebiasaan, harapan, dan cara-cara yang berlaku di sekolah. Pada saat memulai pembelajaran, para guru pun mulai melakukan kegiatan dengan serangkaian kegiatan seperti berdoa, menyapa keadaan siswa, menanyakan dan mendengarkan apa saja yang menjadi harapan para siswa, dan seterusnya.
Pada awalnya budaya sekolah dibentuk dalam jaringan yang sifatnya formal. Serangkaian nilai, norma, dan aturan ditentukan dan ditetapkan pihak sekolah sebagai panduan bagi warga sekolah dalam berikir, bersikap, dan bertindak. Dalam perkembangannya, secara perlahan budaya sekolah ini akan tertanam melalui jaringan kultural yang informal, karena sudah menjadi trade mark sekolah yang bersangkutan. Siapa pun yang masuk ke dalam wilayah sekolah, mereka akan dan harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berlaku di dalamnya. Kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa pada umumnya banyak berperan dalam jaringan ini.
Hampir semua sekolah memiliki serangkaian atau seperangkat keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang menjadi ciri khasnya dan senantiasa disosialisasikan dan ditransmisikan melalui berbagai media. Dengan berjalannya waktu, proses tersebut telah membentuk suatu iklim budaya tertentu dalam lingkungan sekolah. Iklim tersebut secara langsung menggambarkan perasaan-perasaan, dan pengalaman-pengalaman moral yang ada di sekolah. Budaya sekolah sekali lagi menunjukkan kompleksitas unsur keyakinan, nilai, norma, kebiasaan, bahasa, dan tujuan-tujuan apa pun yang lebih baik. Budaya sekolah berada pada unsur yang lebih dalam dari sekolah.
Selama ini, sekolah telah mengembangkan dan membangun suatu kepribadian yang unik bagi para warganya. Kepribadian ini, atau budaya ini, dimanifestasikan dalam bentuk sikap mental, norma-norma sosial, dan pola perilaku warga sekolah. Contoh berpikir yang sederhana tentang budaya sekolah ini dapat dilihat pada cara mereka melakukan sesuatu. Budaya ini memengaruhi semua hal yang terjadi sekolah. Budaya ini memengaruhi dan membebtuk cara-cara kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Di Sekolah Madania, Parung, Bogor, Jawa Barat, misalnya, para siswa sejak SMP sampai SMU memiliki tradisi membaca buku-buku bahasa Inggris dan melakukan riset kepustakaan melalui internet lalu dituliskan dalam sebuah paper singkat.Tradisi baca tulis dalam bahasa Inggris ini telah membudaya sehingga beberapa alumni Madania yang sudah kuliah baik di dalam maupun di luar negeri ketika ada tugas riset dan menulis makalah tidak merasakannya sebagai beban yang memberatkan (Komaruddin Hidayat, 2010).
Berikut ini adalah beberapa aspek dari keyakinan, nilai, dan harapan sosial yang mestinya dimiliki oleh kepala sekolah, guru, dan karyawan ;
1)        Apakah mereka berpikir tentang „perbaikan‟ sebagai sesuatu yang penting?
2)        Apakah mereka mau bekerja secara kolaboratif?
3)        Seberapa kuat tingkat „kepercayaan‟ yang tumbuh di antara kepala sekolah, para guru, dan karyawan?
4)        Apakah mereka menyadari bahwa lingkungan sekolah bertanggung jawab terhadap pembelajaran dan keberhasilan para siswa?
5)        Bagaimana memotivasi mereka untuk senantiasa bekerja keras?
6)        Bagaimana perasaan mereka ketika melihat para siswa tidak dalam performa yang baik?
7)        Bagaimana dukungan mereka terhadap inovasi yang dilakukan sekolah?
8)        Apakah mereka yakin bahwa semua siswa dapat belajar dengan baik dan nyaman di lingkungan sekolah?
9)        Apakah mereka yakin bahwa bekerja secara kolaboratif dan kerjasama tim merupakan sesuatu yang baik?
10)    Apakah mereka yakin bahwa standar-standar yang ditentukan pihak sekolah sudah memenuhi syarat?
11)    Apakah mereka menggunakan data-data yang ada untuk kepentingan pembelajaran dan keberhasilan sekolah dan siswa?
12)    Apakah mereka melihat kegiatan keseharian mereka sebagai panggilan kerja atau ibadah?

Setiap aspek dari sekolah dapat dibentuk dan dicetak oleh nilai-nilai simbolik tertentu. Meskipun tidak semua aspek budaya dapat dengan mudah dibentuk oleh seorang pemimpin, kepemimpinan dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap munculnya pola budaya. Kepemimpinan secara reflektif akan membantu memperkuat pola-pola budaya yang positif dan mengubah sesuatu yang bersifat negatif.
Budaya merupakan jaringan yang kuat, yang meliputi keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang memengaruhi setiap sudut kehidupan sekolah. Budaya sekolah menyebabkan seseorang memberikan perhatian yang khusus, menyebabkan mereka mengidentifikasikan dirinya dengan sekolah (komitmen), memberikan motivasi kepada mereka untuk bekerja keras, dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan sekolah.
Budaya sekolah telah meningkatkan bahkan mempertajam perhatian dan perilaku sehari-hari warga sekolah terhadap apa yang penting dan bernilai bagi sekolah. Perhatian tersebut dapat dilihat pada semua kegiatan yang menjadi program dan prioritas sekolah. Apabila yang perlu diperkuat adalah berkaitan dengan prestasi akademik siswa misalnya, sekolah secara penuh mengarahkan perhatiannya pada hal tersebut. Sekolah dengan sendirinya merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan peningkatan kualitas akademik tersebut. Sekolah akan memfokuskan waktu, tenaga, dan sumberdaya berkaitan dengan kurikulum dan strategi pembelajaran yang akan membantu semua siswa untuk meningkatkan prestasinya. Demikian juga, apabila program prioritas tersebut diarahkan bagi terwujudnya karakter terpuji, semua kegiatan pendukung seperti pembelajaran (teaching), pemodelan (modeling), dan penguatan lingkungan (reinforcing), akan tertuju pada titik tersebut.
Budaya sekolah akan membangun komitmen dan identifikasi diri dengan nilai-nilai, norma-norna, dan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Pada suatu sekolah misalnya, setiap guru secara sadar datang pada jam 06.30 dan pulang pada jam 16.00. Kehadiran guru yang demikian sebagai bentuk komitmen mereka terhadap budaya yang telah berlaku di sekolah yang bersangkutan. Kebiasaan yang berlaku tersebut telah mengikat dan menjadi bagian dari hidupnya sehingga tidak dirasakan sebagai beban. Budaya sekolah, dengan demikian, telah membangun komiten terhadap semua warganya.
Budaya sekolah telah pula memperkuat dan memperjelas motivasi. Apabila sekolah memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, usaha, dan memberikan komitmennya, semua karyawan dan siswanya akan termotivasi untuk bekerja keras, inovatif, dan mendukung perubahan. Di SD Muhammadiyah Condong Catur Yogyakarta misalnya, setiap guru, karyawan, dan siswa yang berprestasi, sekecil apa pun, akan selalu diumumkan pada saat upacara hari Senin. Cara yang dilakukan ini ternyata telah memotivasi setiap guru, karyawan, dan siswa untuk meraih prestasi-prestasi tertentu.
Akhirnya, budaya sekolah juga akan mempertinggi tingkat efektivitas dan produktivitas. Guru dan siswa akhirnya terbiasa dengan bekerja keras, memiliki komitmen yang tinggi terhadap pencapaian yang baik, dan memperhatikan pemecahan masalah, serta fokus terhadap pembelajaran bagi semua siswa. Pada sekolah-sekolah ini, budaya sekolah berhasil memperkuat pemecahan masalah secara kolaboratif, perencanaan, dan pengambilan keputusan.
Menurut Nusyam (2011), setidaknya ada tiga budaya yang perlu dikembangkan di sekolah, yaitu kultur akademik, kultur budaya, dan kultur demokratis. Ketiga kultur ini harus menjadi prioritas yang melekat dalam lingkungan sekolah.
Pertama, kultur akademik. Kultur akademik memiliki ciri pada setiap tindakan, keputusan, kebijakan, dan opini didukung dengan dasar akademik yang kuat. Artinya merujuk pada teori, dasar hukum, dan nilai kebenaran yang teruji, bukan pada popularitas semata atau sangkaan yang tidak memiliki dasar empirik yang kuat. Ini berbeda dengan kultur politik atau dunia entertain. Dengan demikian, kepala sekolah, guru, dan siswa selalu berpegang pada pijakan teoretik dalam berpikir, bersikap dan bertindak dalam kesehariannya. Kultur akademik tercermin pada kedisiplinan dalam bertindak, kearifan dalam bersikap, serta kepiawaian dalam berpikir dan berargumentasi.
Kedua, kultur budaya. Kultur budaya tercermin pada pengembangan sekolah yang memelihara, membangun, dan mengembangkan budaya bangsa yang positif dalam kerangka pembangunan manusia seutuhnya. Sekolah akan menjadi benteng pertahanan terkikisnya budaya akibat gencarnya serangan budaya asing yang tidak relevan seperti budaya hedonisme, individualisme, dan materialisme. Jika dunia luar melalui entertainment dan advertisement sangat gencar menawarkan konsumerisme dan materialisme semata, sekolah secara konsisten dan persisten menanamkan nilai-nilai transendental rela berkorban dan ihlas beramal. Di sisi lain sekolah terus mengembangkan seni tradisi yang berakar pada budaya nusantara yang dikreasi untuk dikemas dengan modernitas dengan tetap mempertahankan keasliannya.
Ketiga, kultur demokratis. Kultur demokratis menampilkan corak berkehidupan yang mengakomodasi perbedaan untuk secara bersama membangun kemajuan. Kultur ini jauh dari pola tindakan disksriminatif dan otoritarianisme serta sikap mengabdi atasan secara membabi buta. Warga sekolah selalu bertindak objektif, transparan, dan bertanggungjawab.

C. Budaya Sekolah Berbasis Karakter Terpuji

Meski tidak sepenuhnya benar, mendidik anak itu dapat disamakan dengan menyemai benih tanaman. Seseorang yang ingin menanam jenis tanaman tertentu yang benih atau bibitnya berasal dari suatu tempat, maka orang tersebut perlu menganalisis dan mengondisikan tanah serta cuaca yang cocok dengan tanaman tersebut. Logika yang demikian tampaknya berlaku juga dalam dunia pendidikan meskipun bibit pohon tidak persis sama dengan anak manusia. Banyak anak yang memiliki bakat hebat, tetapi karena kondisi sekolahnya tidak mendukung, anak dimaksud tidak tumbuh optimal, bakatnya terpendam, bahkan mati. Sebaliknya, anak dengan kepandaian dan bakat yang sedang-sedang saja, tetapi karena lingkungan sekolahnya baik, anak tersebut tumbuh sebagai anak yang mandiri dan sukses. Berdasarkan argumen di atas, kemudian muncul formula bahwa apa yang disebut school culture sangat vital perannya bagi sebuah proses pendidikan, demikian menurut Komaruddin Hidayat (2010).
Banyak nilai yang dapat dan harus dibangun di sekolah. Sekolah adalah laksana taman atau lahan yang subur tempat menyemaikan dan menanam benih-benih nilai tersebut. Pemerintah sendiri telah membuat grand design pendidian karakter dengan menempatkan empat nilai utama yang harus ditanamkan di sekolah. Keempat nilai tersebut adalah: (1) Jujur dan bertanggung jawab (cerminan dari olah hati); (2) Cerdas (cerminan dari olah pikir); (3) Sehat dan bersih (cerminan dari olah raga); dan (4) Peduli dan kreatif (cerminan dari olah rasa).
Sementara itu, Lickona (2004) menyebutkan adanya sepuluh nilai utama yang bisa ditanamkan oleh pihak sekolah . Kesepuluh nilai itu adalah sebagai berikut ;
1. Kebijaksanaan/Bijaksana (wisdom):
a.       Keputusan yang baik; kemampuan untuk membuat keputusan yang masuk akal (good judgment).
b.      Memiliki pengetahuan dan kemampuan mengenai bagaimana caranya mempraktikkan nilai-nilai kebaikan.
c.       Memiliki kemampuan untuk menentukan skala prioritas dalam hidup (ability to set priorities).

2. Keadilan atau adil (justice):
a. Kejujuran (fairness, mengikuti aturan).
b. Rasa hormat (respect).
c. Bertanggungjawab (responsibility).
d. Tulus (honesty).
e. Kesopanan (Courtesy/civility).
f. Toleransi (tolerance).

3. Daya tahan (fortitude):
a. Keberanian (courage).
b. Elastisitas, daya lenting (resilience).
c. Kesabaran (patience).
d. Kegigihan, ketabahan hati (perseverance).
e. Daya tahan, kesabaran (endurance).
f. Percaya-diri (self-confidence).

4. Kontrol-diri (self-control):
a. Disiplin-diri (self-discipline).
b. Kemampuan untuk mengelola emosi dan dorongan diri.
c. Kemampuan untuk menunda kesenangan (to delay gratification) atau tidak cepat puas diri.
d. Kemampuan untuk melawan atau tahan terhadap godaan (to resist temptation).
e. Moderat (moderation).
f. Kemampuan menjaga kecenderungan seksnya (sexual self-control).

5. Cinta (love):
a. Mengenali pikiran, perasaan, dan sikap orang lain (empathy).
b. Memiliki rasa iba (compassion).
c. Ramah dan penuh kasih sayang (kindness).
d. Murah hati (generosity).
e. Mudah menolong atau membantu (service).
f. Setia (loyalty).
g. Cinta tanah air (patriotism).
h. Pemaaf (forgiveness).

6. Sikap positif (positive attitude):
a. Penuh harapan (hope).
b. Bersemangat (enthusiasm).
c. Lentur, dapat berubah dengan mudah (flexibility).
d. Memiliki rasa humor (sense of humor).


7. Kerja Keras (hard works):
a. Memiliki prakarsa (initiative).
b. Tekun atau rajin (diligence).
c. Penetapan atau perencanaan yang matang (good-setting).
d. Kecerdikan atau kecerdasan (resourcefulness).

8. Kepribadian yang utuh (integritiy):
a. Mengikuti prinsip-prinsip moral (adhering to moral principle).
b. Kesetiaan terhadap kata-hati (faithfulness to a correctly formed conscience).
c. Menjaga perkataan atau satunya kata dan perbuatan (keeping one's word).
d. Konsisten secara etik (ethical consistency).
e. Tulus atau Ihlas (being honest with oneself).

9. Perasaan berterima kasih (gratitude):
a. Kebiasaan berterima kasih (the habit of being thankfull; appreciating one's blessings).
b. Kemampuan menghargai orang lain (acknowledging one's debts to others).
c. Tidak suka komplain (not complaining) atau tidak mudah menuduh.

10. Kerendah hati (humility):
a. Sadar-diri atau tahu diri (self-awarness).
b. Mau mengakui kesalahan dan bertanggung jawab (willingness to mistakes and responsibility to them).
c. Keinginan untuk menjadi lebih baik (the desire to become a better person).

Selanjutnya Lickona (1998:53) menyebutkan adanya sebelas prinsip yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter tersebut di atas, yaitu sebagai berikut ;
1.      Memromosikan nilai-nilai pritoritas atau inti (seperti sifat peduli, tulus (honesty), jujur (fairness), bertanggung jawab, terbuka, rasa hormat kepada diri sendiri dan orang lain) dan mendukung implementasi nilai-nilai tersebut sebagai dasar bagi karakter yang baik.
2.      Mendefinisikan 'karakter' secara komprehensif yang meliputi aspek pemikiran, perasaan, dan perilaku.
3.      Menggunakan pendekatan yang komprehensif, mendalam, dan proaktif terhadap implementasi dan pengembangan karakter.
4.      Menciptakan komunitas sekolah yang peduli.
5.      Memberikan peluang kepada para siswa untuk melakukan tindakan moral.
6.      Menyusun kurikulum yang bermakna dan menghargai semua siswa, mengembangkan karakter mereka, dan membantunya untuk mencapai keberhasilan.
7.      Berusaha keras untuk memelihara motivasi diri para siswa.
8.      Melibatkan semua warga sekolah sebagai komunitas belajar dan moral yang bersama-sama bertanggung jawab terhadap implementasi dan pengembangan karakter, dan berusaha untuk mentaati nilai-nilai prioritas atau inti yang sama yang akan menjadi teladan bagi para siswa.
9.      Memelihara kepemimpinan moral secara bersama-sama dan mendukung inisiatif pendidikan karakter.
10.  Melibatkan anggota keluarga dan masyarakat sebagai patner dalam usaha membangun karakter.
11.  Menekankan karakter sekolah dan menempatkan komponen sekolah (kepala sekolah, guru, dan karyawan) berfungsi sebagai guru dan teladan bagi pembentukan karakter, hingga sampai kepada para siswa dalam mewujudkan karakter yang baik.


Bersambung ....

MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH BERBASIS KARAKTER TERPUJI



MEMBANGUN BUDAYA SEKOLAH BERBASIS KARAKTER TERPUJI
Oleh : Drs. Nur Kholiq,M.Pd


A. Pendahuluan
Dewasa ini perhatian pemerintah dicurahkan untuk menjadikan sekolah-sekolah memiliki kualitas yang lebih baik. Kualitas tersebut tidak saja tertuju pada kemampuan yang bersifat kognitif, tetapi lebih dari itu adalah pada kualitas yang bersifat afektif dan psikomotorik yang berupa aspek sikap dan perilaku. Untuk memenuhi kepentingan tersebut, pemerintah Republik Indonesia, melalui Presiden Susilo Bambang Yudoyono, pada tanggal 11 Mei tahun 2010; telah mencanangkan gerakan nasional pendidikan karakter. Melalui gerakan tersebut pemerintah berusaha mengembalikan pendidikan pada khiththahnya, yang meliputi ketiga asepeknya, yitu kognitif, afektif, dan psikomotorik secara konsisten.
Para pembuat kebijakan di bidang pendidikan, demikian juga dengan masyarakat secara keseluruhan, menginginkan anak-anak yang telah selesai dari suatu jenjang pendidikan tertentu tidak hanya memperoleh kebanggan dalam pretasi akademiknya, tetapi lebih dari itu adalah prestasi dalam sikap dan perilakunya. Selama ini, kekurangan dan sekaligus merupakan kelemahan dari para lulusan adalah belum atau tidak tercapainya tuntutan yang kedua. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, sudah pada tempat dan waktunya, apabila sekolah-sekolah mengupayakan dan melakukan pembudayaan karakter di lingkungannya.
Pemerintah sekarang memang sedang giat-giatnya berbicara pentingnya pembentukan karakter. Akan tetepi, menurut Komaruddin Hidayat (2010), tanpa budaya sekolah yang bagus akan sulit melakukan pendidikan karakter bagi anak-anak didik kita. Jika budaya sekolah sudah mapan, siapa pun yang masuk dan bergabung ke sekolah itu hampir secara otomatis akan mengikuti tradisi yang telah ada. Contoh yang paling nyata adalah budaya bersih dan hidup tertib di Singapura. Tidak hanya sebatas school culture, di sana bahkan sudah tumbuh city culture, yang antara lain ditandai hidup bersih, budaya antri, dan disiplin. Orang Indonesia yang tidak terbiasa hidup bersih dan disiplin berlalu lintas, begitu masuk Singapura tiba-tiba menjadi berubah, menyesuaikan dengan kultur yang ada. Budaya sekolah, atau lebih luas lagi budaya pendidikan, dengan demikian menjadi pijakan yang kuat bagi pembentukan karakter siswa.
Sebuah budaya mengasumsikan kehidupan yang berjalan natural, tidak lagi dirasakan sebagai beban. Karena itu, merancang budaya sekolah mesti memikirkan dan menyiapkan pula kehidupan seni dan olahraga serta ruang kebebasan kreasi anak. Dengan demikian, proses pendidikan dan beban kurikulum sekolah tidak dirasakan sebagai beban, melainkan tantangan layaknya dalam sebuah permainan olahraga yang penuh semangat, tetapi tetap ada wasit ataupun peraturan baku.Wasit yang baik adalah kesadaran menjaga mutu permainan yang datang dari para pemain sendiri, yaitu semua warga sekolahnya.
Masa-masa sekolah adalah sebuah formative years, masa pembentukan karakter yang sangat menentukan fondasi moral-intelektual seseorang seumur hidupnya. Anak-anak yang sukses di bangku kuliah akan sangat ditentukan bagaimana kualitas dan kebiasaan belajar serta hidupnya di usia sebelumnya. Siapa saja anak-anak yang akan sukses di sebuah perguruan tinggi sudah mulai terbaca dengan mengamati asal-usul sekolahnya dan hasil seleksi masuknya. Dalam hal karakter, perguruan tinggi hanyalah kelanjutan dari apa yang sudah terbentuk sebelumnya. Perguruan tinggi memang berhasil mewisuda mahasiswanya sebagai seorang sarjana, namun saya ragu, benarkah sistem perkuliahan yang ada mampu membentuk karakter seseorang?, demikian dinyatakan Komaruddin Hidayat (2010). Pembangunan sekolah terberat justru terletak pada membangun kultur sekolah ini, karena selain membutuhkan dana yang tidak sedikit, juga membutuhkan daya tahan kesabaran, keuletan, persisistensi, dan konsistensi dari seluruh pemangku kepentingan di sekolah yaitu kepala sekolah, guru, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.

B. Apa itu Budaya Sekolah?
Pandangan tentang apa itu budaya sekolah sudah sejak beberapa tahun silam dilontarkan. Pada tahun 1932 misalnya, Willard Waller (Peterson dan Deal, 2009: 8) menyatakan bahwa setiap sekolah memunyai budayanya sendiri, yang berupa serangkaian nilai, norma, aturan moral, dan kebiasaan, yang telah membentuk perilaku dan hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya. Sementara itu, Short dan Greer (1997) mendefinisikan budaya sekolah sebagai keyakinan, kebijakan, norma, dan kebiasaan di dalam sekolah yang dapat dibentuk, diperkuat, dan dipelihara melalui pimpinan dan guru-guru di sekolah. Budaya sekolah, dengan demikian, merupakan konteks di belakang layar sekolah yang menunjukkan keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang telah dibangun dalam waktu yang lama oleh semua warga dalam kerja sama di sekolah. Budaya sekolah berpengaruh tidak hanya pada kegiatan warga sekolah, tetapi juga motivasi dan semangatnya.
Para orang tua/wali dan siswa selalu dapat mendeteksi secara tepat semangat yang ada di sekolah. Para orang tua/wali memasukan anak-anak mereka ke suatu sekolah pada umumnya karena mempertimbangkan dan memperhatikan budaya yang telah tertanam di sekolah-sekolah terseut. Para siswa pun dapat dengan cepat merasakan budaya sekolahnya karena mereka menjadi bagian dari lingkungan sekolah tersebut. Mereka pun mengetahui dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk, sesuai dengan nilai, norma, dan kebiasaan yang telah berlaku di lingkungan sekolahnya.
Para guru dan karyawan ketika memasuki wilayah sekolah, pun segera akan menyesuaikan diri. Mereka dengan sadar dan spontan mengikuti nilai, norma, kebiasaan, harapan, dan cara-cara yang berlaku di sekolah. Pada saat memulai pembelajaran, para guru pun mulai melakukan kegiatan dengan serangkaian kegiatan seperti berdoa, menyapa keadaan siswa, menanyakan dan mendengarkan apa saja yang menjadi harapan para siswa, dan seterusnya.
Pada awalnya budaya sekolah dibentuk dalam jaringan yang sifatnya formal. Serangkaian nilai, norma, dan aturan ditentukan dan ditetapkan pihak sekolah sebagai panduan bagi warga sekolah dalam berikir, bersikap, dan bertindak. Dalam perkembangannya, secara perlahan budaya sekolah ini akan tertanam melalui jaringan kultural yang informal, karena sudah menjadi trade mark sekolah yang bersangkutan. Siapa pun yang masuk ke dalam wilayah sekolah, mereka akan dan harus menyesuaikan diri dengan budaya yang berlaku di dalamnya. Kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa pada umumnya banyak berperan dalam jaringan ini.
Hampir semua sekolah memiliki serangkaian atau seperangkat keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang menjadi ciri khasnya dan senantiasa disosialisasikan dan ditransmisikan melalui berbagai media. Dengan berjalannya waktu, proses tersebut telah membentuk suatu iklim budaya tertentu dalam lingkungan sekolah. Iklim tersebut secara langsung menggambarkan perasaan-perasaan, dan pengalaman-pengalaman moral yang ada di sekolah. Budaya sekolah sekali lagi menunjukkan kompleksitas unsur keyakinan, nilai, norma, kebiasaan, bahasa, dan tujuan-tujuan apa pun yang lebih baik. Budaya sekolah berada pada unsur yang lebih dalam dari sekolah.
Selama ini, sekolah telah mengembangkan dan membangun suatu kepribadian yang unik bagi para warganya. Kepribadian ini, atau budaya ini, dimanifestasikan dalam bentuk sikap mental, norma-norma sosial, dan pola perilaku warga sekolah. Contoh berpikir yang sederhana tentang budaya sekolah ini dapat dilihat pada cara mereka melakukan sesuatu. Budaya ini memengaruhi semua hal yang terjadi sekolah. Budaya ini memengaruhi dan membebtuk cara-cara kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan dalam berpikir, merasa, dan bertindak. Di Sekolah Madania, Parung, Bogor, Jawa Barat, misalnya, para siswa sejak SMP sampai SMU memiliki tradisi membaca buku-buku bahasa Inggris dan melakukan riset kepustakaan melalui internet lalu dituliskan dalam sebuah paper singkat.Tradisi baca tulis dalam bahasa Inggris ini telah membudaya sehingga beberapa alumni Madania yang sudah kuliah baik di dalam maupun di luar negeri ketika ada tugas riset dan menulis makalah tidak merasakannya sebagai beban yang memberatkan (Komaruddin Hidayat, 2010).
Berikut ini adalah beberapa aspek dari keyakinan, nilai, dan harapan sosial yang mestinya dimiliki oleh kepala sekolah, guru, dan karyawan ;
1)        Apakah mereka berpikir tentang „perbaikan‟ sebagai sesuatu yang penting?
2)        Apakah mereka mau bekerja secara kolaboratif?
3)     Seberapa kuat tingkat „kepercayaan‟ yang tumbuh di antara kepala sekolah, para guru, dan karyawan?
4)        Apakah mereka menyadari bahwa lingkungan sekolah bertanggung jawab terhadap pembelajaran dan keberhasilan para siswa?
5)        Bagaimana memotivasi mereka untuk senantiasa bekerja keras?
6)        Bagaimana perasaan mereka ketika melihat para siswa tidak dalam performa yang baik?
7)        Bagaimana dukungan mereka terhadap inovasi yang dilakukan sekolah?
8)        Apakah mereka yakin bahwa semua siswa dapat belajar dengan baik dan nyaman di lingkungan sekolah?
9)        Apakah mereka yakin bahwa bekerja secara kolaboratif dan kerjasama tim merupakan sesuatu yang baik?
10)    Apakah mereka yakin bahwa standar-standar yang ditentukan pihak sekolah sudah memenuhi syarat?
11)    Apakah mereka menggunakan data-data yang ada untuk kepentingan pembelajaran dan keberhasilan sekolah dan siswa?
12)    Apakah mereka melihat kegiatan keseharian mereka sebagai panggilan kerja atau ibadah?

Setiap aspek dari sekolah dapat dibentuk dan dicetak oleh nilai-nilai simbolik tertentu. Meskipun tidak semua aspek budaya dapat dengan mudah dibentuk oleh seorang pemimpin, kepemimpinan dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap munculnya pola budaya. Kepemimpinan secara reflektif akan membantu memperkuat pola-pola budaya yang positif dan mengubah sesuatu yang bersifat negatif.
Budaya merupakan jaringan yang kuat, yang meliputi keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan yang memengaruhi setiap sudut kehidupan sekolah. Budaya sekolah menyebabkan seseorang memberikan perhatian yang khusus, menyebabkan mereka mengidentifikasikan dirinya dengan sekolah (komitmen), memberikan motivasi kepada mereka untuk bekerja keras, dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan sekolah.
Budaya sekolah telah meningkatkan bahkan mempertajam perhatian dan perilaku sehari-hari warga sekolah terhadap apa yang penting dan bernilai bagi sekolah. Perhatian tersebut dapat dilihat pada semua kegiatan yang menjadi program dan prioritas sekolah. Apabila yang perlu diperkuat adalah berkaitan dengan prestasi akademik siswa misalnya, sekolah secara penuh mengarahkan perhatiannya pada hal tersebut. Sekolah dengan sendirinya merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan peningkatan kualitas akademik tersebut. Sekolah akan memfokuskan waktu, tenaga, dan sumberdaya berkaitan dengan kurikulum dan strategi pembelajaran yang akan membantu semua siswa untuk meningkatkan prestasinya. Demikian juga, apabila program prioritas tersebut diarahkan bagi terwujudnya karakter terpuji, semua kegiatan pendukung seperti pembelajaran (teaching), pemodelan (modeling), dan penguatan lingkungan (reinforcing), akan tertuju pada titik tersebut.
Budaya sekolah akan membangun komitmen dan identifikasi diri dengan nilai-nilai, norma-norna, dan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Pada suatu sekolah misalnya, setiap guru secara sadar datang pada jam 06.30 dan pulang pada jam 16.00. Kehadiran guru yang demikian sebagai bentuk komitmen mereka terhadap budaya yang telah berlaku di sekolah yang bersangkutan. Kebiasaan yang berlaku tersebut telah mengikat dan menjadi bagian dari hidupnya sehingga tidak dirasakan sebagai beban. Budaya sekolah, dengan demikian, telah membangun komiten terhadap semua warganya.
Budaya sekolah telah pula memperkuat dan memperjelas motivasi. Apabila sekolah memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, usaha, dan memberikan komitmennya, semua karyawan dan siswanya akan termotivasi untuk bekerja keras, inovatif, dan mendukung perubahan. Di SD Muhammadiyah Condong Catur Yogyakarta misalnya, setiap guru, karyawan, dan siswa yang berprestasi, sekecil apa pun, akan selalu diumumkan pada saat upacara hari Senin. Cara yang dilakukan ini ternyata telah memotivasi setiap guru, karyawan, dan siswa untuk meraih prestasi-prestasi tertentu.
Akhirnya, budaya sekolah juga akan mempertinggi tingkat efektivitas dan produktivitas. Guru dan siswa akhirnya terbiasa dengan bekerja keras, memiliki komitmen yang tinggi terhadap pencapaian yang baik, dan memperhatikan pemecahan masalah, serta fokus terhadap pembelajaran bagi semua siswa. Pada sekolah-sekolah ini, budaya sekolah berhasil memperkuat pemecahan masalah secara kolaboratif, perencanaan, dan pengambilan keputusan.
Menurut Nusyam (2011), setidaknya ada tiga budaya yang perlu dikembangkan di sekolah, yaitu kultur akademik, kultur budaya, dan kultur demokratis. Ketiga kultur ini harus menjadi prioritas yang melekat dalam lingkungan sekolah.
Pertama, kultur akademik. Kultur akademik memiliki ciri pada setiap tindakan, keputusan, kebijakan, dan opini didukung dengan dasar akademik yang kuat. Artinya merujuk pada teori, dasar hukum, dan nilai kebenaran yang teruji, bukan pada popularitas semata atau sangkaan yang tidak memiliki dasar empirik yang kuat. Ini berbeda dengan kultur politik atau dunia entertain. Dengan demikian, kepala sekolah, guru, dan siswa selalu berpegang pada pijakan teoretik dalam berpikir, bersikap dan bertindak dalam kesehariannya. Kultur akademik tercermin pada kedisiplinan dalam bertindak, kearifan dalam bersikap, serta kepiawaian dalam berpikir dan berargumentasi.
Kedua, kultur budaya. Kultur budaya tercermin pada pengembangan sekolah yang memelihara, membangun, dan mengembangkan budaya bangsa yang positif dalam kerangka pembangunan manusia seutuhnya. Sekolah akan menjadi benteng pertahanan terkikisnya budaya akibat gencarnya serangan budaya asing yang tidak relevan seperti budaya hedonisme, individualisme, dan materialisme. Jika dunia luar melalui entertainment dan advertisement sangat gencar menawarkan konsumerisme dan materialisme semata, sekolah secara konsisten dan persisten menanamkan nilai-nilai transendental rela berkorban dan ihlas beramal. Di sisi lain sekolah terus mengembangkan seni tradisi yang berakar pada budaya nusantara yang dikreasi untuk dikemas dengan modernitas dengan tetap mempertahankan keasliannya.
Ketiga, kultur demokratis. Kultur demokratis menampilkan corak berkehidupan yang mengakomodasi perbedaan untuk secara bersama membangun kemajuan. Kultur ini jauh dari pola tindakan disksriminatif dan otoritarianisme serta sikap mengabdi atasan secara membabi buta. Warga sekolah selalu bertindak objektif, transparan, dan bertanggungjawab.

C. Budaya Sekolah Berbasis Karakter Terpuji
Meski tidak sepenuhnya benar, mendidik anak itu dapat disamakan dengan menyemai benih tanaman. Seseorang yang ingin menanam jenis tanaman tertentu yang benih atau bibitnya berasal dari suatu tempat, maka orang tersebut perlu menganalisis dan mengondisikan tanah serta cuaca yang cocok dengan tanaman tersebut. Logika yang demikian tampaknya berlaku juga dalam dunia pendidikan meskipun bibit pohon tidak persis sama dengan anak manusia. Banyak anak yang memiliki bakat hebat, tetapi karena kondisi sekolahnya tidak mendukung, anak dimaksud tidak tumbuh optimal, bakatnya terpendam, bahkan mati. Sebaliknya, anak dengan kepandaian dan bakat yang sedang-sedang saja, tetapi karena lingkungan sekolahnya baik, anak tersebut tumbuh sebagai anak yang mandiri dan sukses. Berdasarkan argumen di atas, kemudian muncul formula bahwa apa yang disebut school culture sangat vital perannya bagi sebuah proses pendidikan, demikian menurut Komaruddin Hidayat (2010).
Banyak nilai yang dapat dan harus dibangun di sekolah. Sekolah adalah laksana taman atau lahan yang subur tempat menyemaikan dan menanam benih-benih nilai tersebut. Pemerintah sendiri telah membuat grand design pendidian karakter dengan menempatkan empat nilai utama yang harus ditanamkan di sekolah. Keempat nilai tersebut adalah: (1) Jujur dan bertanggung jawab (cerminan dari olah hati); (2) Cerdas (cerminan dari olah pikir); (3) Sehat dan bersih (cerminan dari olah raga); dan (4) Peduli dan kreatif (cerminan dari olah rasa).
Sementara itu, Lickona (2004) menyebutkan adanya sepuluh nilai utama yang bisa ditanamkan oleh pihak sekolah . Kesepuluh nilai itu adalah sebagai berikut ;
1. Kebijaksanaan/Bijaksana (wisdom):
a.       Keputusan yang baik; kemampuan untuk membuat keputusan yang masuk akal (good judgment).
b.      Memiliki pengetahuan dan kemampuan mengenai bagaimana caranya mempraktikkan nilai-nilai kebaikan.
c.       Memiliki kemampuan untuk menentukan skala prioritas dalam hidup (ability to set priorities).

2. Keadilan atau adil (justice):
a. Kejujuran (fairness, mengikuti aturan).
b. Rasa hormat (respect).
c. Bertanggungjawab (responsibility).
d. Tulus (honesty).
e. Kesopanan (Courtesy/civility).
f. Toleransi (tolerance).

3. Daya tahan (fortitude):
a. Keberanian (courage).
b. Elastisitas, daya lenting (resilience).
c. Kesabaran (patience).
d. Kegigihan, ketabahan hati (perseverance).
e. Daya tahan, kesabaran (endurance).
f. Percaya-diri (self-confidence).

4. Kontrol-diri (self-control):
a. Disiplin-diri (self-discipline).
b. Kemampuan untuk mengelola emosi dan dorongan diri.
c. Kemampuan untuk menunda kesenangan (to delay gratification) atau tidak cepat puas diri.
d. Kemampuan untuk melawan atau tahan terhadap godaan (to resist temptation).
e. Moderat (moderation).
f. Kemampuan menjaga kecenderungan seksnya (sexual self-control).

5. Cinta (love):
a. Mengenali pikiran, perasaan, dan sikap orang lain (empathy).
b. Memiliki rasa iba (compassion).
c. Ramah dan penuh kasih sayang (kindness).
d. Murah hati (generosity).
e. Mudah menolong atau membantu (service).
f. Setia (loyalty).
g. Cinta tanah air (patriotism).
h. Pemaaf (forgiveness).

6. Sikap positif (positive attitude):
a. Penuh harapan (hope).
b. Bersemangat (enthusiasm).
c. Lentur, dapat berubah dengan mudah (flexibility).
d. Memiliki rasa humor (sense of humor).

7. Kerja Keras (hard works):
a. Memiliki prakarsa (initiative).
b. Tekun atau rajin (diligence).
c. Penetapan atau perencanaan yang matang (good-setting).
d. Kecerdikan atau kecerdasan (resourcefulness).

8. Kepribadian yang utuh (integritiy):
a. Mengikuti prinsip-prinsip moral (adhering to moral principle).
b. Kesetiaan terhadap kata-hati (faithfulness to a correctly formed conscience).
c. Menjaga perkataan atau satunya kata dan perbuatan (keeping one's word).
d. Konsisten secara etik (ethical consistency).
e. Tulus atau Ihlas (being honest with oneself).

9. Perasaan berterima kasih (gratitude):
a. Kebiasaan berterima kasih (the habit of being thankfull; appreciating one's blessings).
b. Kemampuan menghargai orang lain (acknowledging one's debts to others).
c. Tidak suka komplain (not complaining) atau tidak mudah menuduh.

10. Kerendah hati (humility):
a. Sadar-diri atau tahu diri (self-awarness).
b. Mau mengakui kesalahan dan bertanggung jawab (willingness to mistakes and responsibility to them).
c. Keinginan untuk menjadi lebih baik (the desire to become a better person).

Selanjutnya Lickona (1998:53) menyebutkan adanya sebelas prinsip yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter tersebut di atas, yaitu sebagai berikut ;
1.      Memromosikan nilai-nilai pritoritas atau inti (seperti sifat peduli, tulus (honesty), jujur (fairness), bertanggung jawab, terbuka, rasa hormat kepada diri sendiri dan orang lain) dan mendukung implementasi nilai-nilai tersebut sebagai dasar bagi karakter yang baik.
2.      Mendefinisikan 'karakter' secara komprehensif yang meliputi aspek pemikiran, perasaan, dan perilaku.
3.      Menggunakan pendekatan yang komprehensif, mendalam, dan proaktif terhadap implementasi dan pengembangan karakter.
4.      Menciptakan komunitas sekolah yang peduli.
5.      Memberikan peluang kepada para siswa untuk melakukan tindakan moral.
6.      Menyusun kurikulum yang bermakna dan menghargai semua siswa, mengembangkan karakter mereka, dan membantunya untuk mencapai keberhasilan.
7.      Berusaha keras untuk memelihara motivasi diri para siswa.
8.      Melibatkan semua warga sekolah sebagai komunitas belajar dan moral yang bersama-sama bertanggung jawab terhadap implementasi dan pengembangan karakter, dan berusaha untuk mentaati nilai-nilai prioritas atau inti yang sama yang akan menjadi teladan bagi para siswa.
9.      Memelihara kepemimpinan moral secara bersama-sama dan mendukung inisiatif pendidikan karakter.
10.  Melibatkan anggota keluarga dan masyarakat sebagai patner dalam usaha membangun karakter.
11.  Menekankan karakter sekolah dan menempatkan komponen sekolah (kepala sekolah, guru, dan karyawan) berfungsi sebagai guru dan teladan bagi pembentukan karakter, hingga sampai kepada para siswa dalam mewujudkan karakter yang baik.

D. Implementasi Budaya Sekolah

Proses yang efektif untuk membangun budaya sekolah adalah dengan melibatkan dan mengajak semua pihak atau pemangku kepentingan untuk bersama-sama memberikan komitmennya. Keyakinan utama dari pihak sekolah harus difokuskan pada usaha menyemaikan dan menanamkan keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang merupakan harapan setiap pemangku kepentingan tersebut. Untuk itu, pimpinan sekolah, para guru, dan karyawan, harus fokus pada usaha pengorganisasian yang mengarah pada harapan di atas dengan cara sebagai berikut.
Pertama, mendefinisikan peran yang harus dimainkan oleh pimpinan sekolah, guru, dan komunitas sekolah melalui komunikasi yang terbuka dan kegiatan-kegiatan akademik yang dapat memberikan layanan terbaik terhadap harapan dan kebutuhan komunitas sekolah tertentu (siswa).
Kedua, menyusun mekanisme komunikasi yang efektif, seperti misalnya dengan melakukan pertemuan rutin (mingguan atau bulanan) di antara pimpinan sekolah, guru, dan karyawan; pihak sekolah dengan mitra, seperti dengan perguruan dengan atau organisasi profesi tertentu; pihak sekolah dengan orang tua/wali; dan pihak sekolah dengan pemerintah.
Ketiga, melakukan kajian bersama untuk mencapai keberhasilan sekolah, misalnya melalui pertemuan dengan sekolah-sekolah tertentu yang telah berhasil atau sekolah unggulan, atau dengan melakukan studi banding.
Keempat, melakukan visualisasi visi dan misi sekolah, keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang diharapkan sekolah.
Kelima, memberikan pelatihan-pelatihan atau memberikan kesempatan kepada semua komponen sekolah untuk mengikuti berbagai pelatihan atau pengembangan diri, yang mendukung terwujudnya budaya sekolah yang diharapkan.
Selain lima hal yang sudah disebutkan di atas, Lickona (1991:346) menyebutkan adanya enam unsur moral positif yang hendaknya ditanamkan di lingkungan sekolah. Keenam unsur tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama: Kepala sekolah hendaknya memperlihatkan kepemimpinan moral akademik dengan cara :
a.       mengartikulasikan visi dan misi sekolah secara jelas.
b.      memperkenalkan semua warga sekolah dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dan strategi pencapaiannya serta penilaian terhadap tujuan-tujuan tersebut.
c.       meminta dukungan dan partisipasi para orang tua/wali siswa.
d.      memodelkan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan sekolah melalui interaksi dengan para guru, karyawan, siswa, dan orang tua/wali siswa.

Kedua: Pihak sekolah membuat aturan-aturan atau disiplin sekolah (nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan) yang efektif dengan cara:
a.       mendefinisikan semua nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan secara jelas dan memperkuatnya.
b.      mengatasi masalah-masalah perilaku siswa (nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan) dengan cara yang dapat membantu perkembangan moral mereka.
c.       memberikan jaminan bahwa nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang ditetapkan pihak sekolah akan ditegakkan sepenuhnya di lingkungan sekolah dan dengan segera akan menghentikan semua perilaku yang menyimpang.

Ketiga: Pihak sekolah menciptakan suasana lingkungan sekolah yang nyaman dengan cara:
a.         mendorong semua warga sekolah untuk memberikan perhatian dan kepeduliannya antara satu dengan yang lain.
b.        memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk saling mengenal satu dengan lainnya, demikian juga dengan kepala sekolah, guru, dan karyawan.
c.         menjadikan sebagian besar siswa agar tertarik untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
d.         memperkuat kegiatan keolahragaan.
e.         memasang berbagai visualisasi atau famflet yang akan membantu perkembangan nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang positif.
f.         menekankan setiap kelas untuk memberikan sumbangannya yang positif dan bermanfaat bagi sekolah.
Keempat: Pihak sekolah dapat menggunakan organisasi siswa (OSIS) untuk memromosikan terbinanya warga sekolah yang memiliki tanggung jawab bersama terhadap sekolah, dengan cara:
a.       menjadikan organisasi siswa (OSIS) berperan memaksimalkan partisipasi mereka dan menguatkan interaksi di antara kelas-kelas yang ada dengan lembaga kesiswaan.
b.      memberikan tanggung jawab kepada lembaga kesiswaan untuk dapat mengatasi persoalan-persoalan dan isu-isu yang memberikan akibat terhadap kualitas kehidupan sekolah.

Kelima: Pihak sekolah dapat menciptakan komunitas moral dengan cara:
a.       menyediakan waktu dan dukungan kepada para guru untuk berkeja bersama-sama dalam menyusun pembelajaran yang bermuatan karakter.
b.      melibatkan para karyawan dalam pengambilan keputusan.

Keenam: Pihak sekolah menekankan pentingnya nilai-nilai moral dengan cara:
a.       melunakkan tekanan-tekanan akademik sehingga para guru tidak mengabaikan perkembangan sosial dan moral para siswa.
b.      mendorong para guru untuk senantiasa bekerja atas dasar nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang positif.

Dinyatakan juga oleh Peterson dan Deal (2009: 207) bahwa masing-masing komponen sekolah memainkan peran yang berbeda-beda. Mereka bertanggung jawab terhadap kelangsungan struktur dan kegiatan-kegiatan sekolah, berbagai prosedur dan kebijakan, program-program dan sumberdaya, serta standar dan aturan yang berlaku di sekolah. Mereka juga memainkan peran yang pokok dalam membentuk budaya sekolah dengan cara mengomunikasikan visi dan misi sekolah, mengartikulasikan dan memelihara nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang positif, serta menghargai setiap capaian yang diperoleh warga sekolah. Secara keseluruhan, peran yang dapat dimainkan oleh masing-masing komponen sekolah dalam mewujudkan budaya sekolah yang berbasis karakter terpuji adalah sebagai berikut ;

1. Kepala Sekolah
Peran yang dimainkan kepala sekolah dalam membangun budaya sekolah yang berbasis karakter terpuji memang sangat menentukan. Peran yang dimainkan pimpinan sekolah adalah dalam bentuk melakukan pembinaan secara terus-menerus dalam hal pemodelan (modeling), pengajaran (teaching), dan penguatan karakter (reinforcing) yang baik terhadap semua warga sekolah (guru, siswa, dan karyawan). Hal paling berat dalam membangun budaya sekolah adalah kesediaan bertindak menampilkan keteladanan dari pimpinan teratas. Kepala sekolah harus menjadi teladan bagi guru, karyawan, siswa, dan bahkan orangtua/wali siswa. Secara teratur dan berkesinambungan kepala sekolah harus melakukan komunikasi dengan warga sekolah mengenai terwujudnya budaya sekolah tersebut. Semangat yang dimiliki kepala sekolah bagi terwujudnya budaya sekolah dengan karakter terpuji sangat berpengaruh terhadap iklim yang akan tercipta di lingkungan sekolahnya.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan kepala sekolah dalam mewujudkan budaya sekolah dengan karakter terpuji adalah sebagai berikut.

  1. Berjuang atau berusaha keras untuk memodelkan diri atau menjadi model bagi semua guru, karyawan, dan siswa.
  2. Mendorong semua guru dan karyawan untuk menjadi model karakter yang baik bagi semua siswa.
  3. Menyediakan waktu dalam suatu siklus yang berkelanjutan, mingguan atau bulanan misalnya, bagi para guru untuk merencanakan dan melaksanakan pengintegrasian nilai-nilai karakter tertentu ke dalam pokok bahasan dalam masing-masing mata pelajaran.
  4. Membentuk dan mendukung bekerjanya Tim Budaya Sekolah dan Karakter dalam memperkuat pelaksanaan dan pembudayaan nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter di lingkungan sekolah.
  5. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan tertentu yang sifatnya mendukung pembudayaan dan penamanan karakater di lingkungan sekolah, seperti seminar, pentas seni, dan pemutaran film.
2. Tim Pengawal Budaya Sekolah dan Karakter
Untuk membantu palaksanaan program budaya sekolah yang berbasis karakter terpuji, pihak sekolah atau kepala sekolah hendaknya membentuk tim tersendiri. Tim ini bisa melibatkan atau terdiri dari unsur pimpinan sekolah bimbingan dan koseling, guru, dan perwakilan orang tua/wali siswa. Tim ini bertugas untuk menentukan prioritas nilai, norm, kebiasaan-kebiasaan karakter tertentu yang akan dibudayakan dan ditanamkan di lingkungan sekolah. Tim ini juga bertugas untuk merencanakan dan menyusun program pelaksanaan pembudayaan dan penanaman karakter di lingkungan sekolah dalam rentang waktu tertentu. Tim ini secara periodik melakukan pertemuan untuk mengoordinasikan dan melakukan evaluasi terhadap semua kegiatan dan perkembangan pelaksanaan program pembudayaan karakter di lingkungan sekolah.
3. Guru
Guru mempersiapkan berbagai pilihan dan strategi untuk menanamkan setiap nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan ke dalam mata pelajaran yang diampunya. Guru dapat memilih cara-cara tertentu dalam proses pemebelajarannya, seperti menyampaikan berbagai kutipan yang berupa kata-kata mutiara atau pribahasa yang berkaitan dengan karakter, ceritera pendek, biografi, tulisan dari jurnal, kegiatan yang bersifat silang-kebudayaan, bermain peran, diskusi kelompok, membuat karangan pendek, dan sebagainya. Setiap sekolah hendaknya menentukan kegiatan khusus yang dapat mengikat para guru untuk melakukan kegiatan tersebut secara berkelanjutan.
4. Keluarga
Orang tua/wali murid dapat terlibat dalam kegiatan pembudayaan dan penanaman karakter melalui bererapa kegiatan. Orang tua/wali murid secara aktif dapat memantau perkembangan perilaku anak mereka melalui buku kegiatan siswa yang sudah disiapkan pihak sekolah. Orang tua/wali murid secara aktif mengikui kegiatan rutin atau bergilir yang dilaksanakan pihak sekolah dalam pertemuan-pertemuan antara orang tua/wali murid dengan wali kelas dan guru-guru kelas.
Kalau memungkinkan, pihak sekolah dapat menerbitkan berita berkala (bulanan) yang diperuntukkan orang tua/wali murid. Berita berkala itu memuat kegiatan-kegiatan yang dilakukan pihak sekolah, terutama yang mendukung terlaksananya pembudayaan dan penanaman karakter. Tidak kalah pentingnya adalah sumbangan berita yang berasal dari masing-masing orang tua/wali siswa yang berisi pengalaman yang dialaminya dalam mendidik anak-anak mereka, baik dari mereka yang memiliki prestasi tinggi maupun dari mereka meresa kesulitan dalam membimbing anak-anaknya. Di dalamnya juga memuat rubrik yang memuat konsultasi orang tua/wali siswa tentang perilaku anak-anak.

5. Komite Sekolah dan Msyarakat

Sekolah bersama komite sekolah dan masyarakat secara bersama-sama menyusun suatu kegiatan yang dapat mendukung terwujudnya pembudayaan dan penanaman karakter yang baik bagi seluruh warga sekolah (guru, siswa, karyawan, dan orang tua/wali siswa). Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. mengundang para ahli, tokoh publik, atau tokoh-tokoh yang diidolakan anak-anak, yang dapat memotivasi dan menggugah semangat para siswa untuk mewujudkan karakter yang baik dalam dirinya dan juga dalam mewujudkan cita-cita mereka.
  2. menyusun proyek-proyek kegiatan sosial bekerja sama dengan organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan sehingga dapat dan akan melahirkan kepekaan warga sekolah (terutama siswa), baik terhadap lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
E. Strategi Pelaksanaan

Program pelaksanaan budaya sekolah berbasis karakter terpuji ini diorganisasikan dan diterapkan di lingkungan sekolah dengan menggunakan strategi pemodelan (modeling), pengajaran (teaching), dan penguatan lingkungan (reinforcing). Pembudayaan dan penanaman karakter ini secara terus-menerus mensyaratkan proses pemodelan, pengajaran, dan penguatan lingkungan atas karakter yang baik. Tim Budaya Sekolah dan Karakter harus menjalin kerjasama secara interkoneksi dengan semua komponen sekolah dan menyatukan langkah mereka untuk membangun lingkungan sekolah yang berkarakter terpuji.
Ketika semua komponen sekolah dilibatkan dalam pembudayaan dan penanaman karakter, ini berarti bahwa nilai, norma, kebiasaan-kebiasaan karakter yang sudah diprioritaskan harus dimodelkan oleh semua warga sekolah (kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan), diintegrasikan oleh setiap guru ke dalam mata pelajaran, dan dikuatkan oleh penataan lingkungan sekolah. Sementara itu, orang tua/wali siswa juga harus memperhatikan perkembangan karakter anak-anak mereka ketika berada di rumah; demikian juga dengan proyek-proyek sosial yang disiapkan oleh komite sekolah dan masyarakat.

1. Pemodelan (Modeling)

Sekolah: Tim Budaya Sekolah dan Karakter akan membantu kepala sekolah, para guru, dan karyawan untuk memahami atau mengerti arti penting pemodelan yang sehat bagi para siswa mereka. Ungkapan umum mengatakan bahwa karakter lebih mudah dipaktekkan dari pada diajarkan. Pihak sekolah harus memahami betul bahwa pelajaran atas nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter yang pertama bagi para siswa adalah karakter diri mereka sendiri, yaitu bagaimana kepala sekolah, guru, dan karyawan bersikap di antara mereka sendiri, memperlakukan dan melayani orang tua/wali siswa, dan tentu saja ketika mereka memperlakukan dan melayani para siswa itu sendiri.
Keluarga: Orang tua memainkan peran yang sangat penting sebagai model bagi anak-anak mereka. Tim Budaya Sekolah dan Karakter dapat membantu para orang tua dengan menerbitkan berita berkala yang di dalamnya memuat kajian tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik atau berisi konsultasi orang tua dengan tim bimbingan dan koseling.
Masyarakat: Masyarakat juga memainkan peran yang tak kalah pentingnya sebagai contoh atau model yang dapat menjadi pendorong keberhasilan para siswa dalam menerapkan nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter yang baik. Tokoh-tokoh panutan tertentu dapat dijadikan model bagi para siswa dengan dihadirkan di sekolah untuk melakukan sharing atas kehidupan dan keberhasilan mereka. Para siswa pun dapat diminta untuk menemui atau melakukan wawancara ringan dengan tokoh-tokoh tersebut dan meminta mereka menceritakan hubungan antara nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter yang baik dan keberhasilan dalam kehidupan mereka.

2. Pengajaran (Teaching)

Pihak sekolah bersama-sama dengan keluarga dan masyarakat harus memberikan perhatian yang serius terhadap pentingnya pembelajaran nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter bagi para siswa. Semua kegiatan harus diorganisasikan secara tepat sesuai dengan karakter yang sedang dibudayakan. Hendaknya ada bahasa yang sama yang digunakan pihak sekolah dan oranag tua. Program tersebut dapat secara mudah diterapkan baik di sekolah maupun di rumah, yaitu sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan karakter yang sudah menjadi prioritas.
Sekolah: Kurikulum yang diterapkan di sekolah dalam mewujudkan budaya sekolah yang berkarakter terpuji meliputi mata pelajaran, berbagai kegiatan, dan proyek sosial. Dalam hal ini guru secara aktif mengajarkan kepada para siswa mengenai arti penting nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter terpuji yang menjadi prioritas sekolah dengan cara mengintegrasikannya ke dalam setiap mata pelajaran.
Keluarga: Lingkungan pembelajaran yang utama bagi anak-anak adalah di rumah. Para orang tua dapat mendiskusikan tentang nilai, norma, kebiasaan-kebiasaan karakter yang menjadi prioritas sekolah dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka masing-masing. Untuk membantu para orang tua, Tim Budaya Sekolah dan Karakter beserta sekolah dapat menyusun kegiatan periodik yang dapat membantu mereka seperti kegiatan konsultasi kelas atau kelas orang tua.
Masyarakat: Tim Budaya Sekolah dan Karakter dapat mengajarkan nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter yang baik kepada para siswa dengan cara menghadirkan tokoh-tokoh idola ke sekolah. Selain itu, tim pun dapat menyiapkan atau membuat proyek untuk melakukan kunjungan sosial ke tempat-tempat tertentu yang sesuai dengan nilai, norma, kebiasaan-kebiasaan karakter yang menjadi proritas. Untuk hal yang kedua para siswa dapat diajak untuk bakti sosial atau berkunjung ke panti asuhan, panti jompo, dan lainnya.

3. Penguatan Lingkungan (Reinforcing)

Agar pembudayaan karakter ini dapat berkembang dan berjalan dengan efektif, harus didukung dengan adanya penguatan yang konsisten. Penguatan yang konsisten ini antara lain dengan dilakukannya komunikasi yang terus-menerus berkaitan dengan nilai, norma, kebiasaan-kebiasaan yang telah menjadi prioritas dan juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menerapkan nilai-nilai tersebut.
Sekolah: Penguatan terhadap pembudayaan karakter yang baik di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa cara. Kebijakan mengenai aturan atau tata tertib sekolah adalah menjadi acuan pokok dalam pembudayaan karakter di sekolah. Penguatan yang lain dapat berupa pembiasaan-pembiasaan yang diprogramkan pihak sekolah seperti pembiasaan tegur, salam, dan sapa, serta jabat tangan, shalat dhuha (bagi umat Islam), berdoa dalam mengawali dan mengakhiri suatu kegiatan, dan lain sebagainya. Penguatan pembudayaan karakter dapat juga berupa visualisasi atau pemasangan pamflet-pamflet yang bermuatan nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan karakter, majalah dinding, dan pemberian penghargaan kepada para guru, siswa, atau kelas tertentu yang memperlihatkan prestasi yang berhubungan dengan nilai-nilai karakter prioritas. Tidak kalah pentingnya untuk mendukung pembudayaan karakter yang baik adalah penataan fisik lingkungan sekolah, seperti pertamanan dan lingkungan yang bersih dan sehat.
Keluarga: Penguatan pembudayaan karakter yang baik dilakukan juga dalam lingkungan keluarga. Pembudayaan ini dapat dilakukan dengan memberikan bahan bacaan ringan kepada anak-anak yang dapat menuntun terbentuknya karakter terpuji. Hal-hal lain yang dapat dilakukan keluarga adalah dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan positif sesuai dengan nilai-nilai karakter yang menjadi prioritas sekolah. Demikian juga dengan melakukan penataan tata ruang di lingkunga keluarga.
Masyarakat: Penguatan pembudayaan karakter terpuji ini dapat dilakukan dengan meminta para siswa untuk menemui tokoh-tokoh masyarakat setempat. Mereka dapat melakukan wawancara ringan atau diminta untuk menceritakan keteladanan dan keberhasilan seorang tokoh. Selain menemui dan menceritakan sosok tokoh masyarakat, proyek sosial yang ditugaskan kepada para siswa akan memberikan kesempatan kepada mereka secara aktif untuk menerapkan nilai-nilai karakter terpuji yang sekaligus merupakan sumbangan mereka terhadap masyarakat.

F. Penutup

Masing-masing komponen sekolah, sejak dari kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua/wali, dan juga masyarakat, memainkan peran yang penting bagi terwujudnya budaya sekolah. Mereka setiap hari harus mencurahkan dan memberikan perhatiannya terhadap berlakunya nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan terpuji di lingkungan sekolah. Tewujudnya budaya sekolah sepenuhnya berada di tangan mereka. Tanpa adanya perhatian yang memadai dan kolaborasi yang kuat di antara mereka, sulit rasanya untuk dapat mewujudkan budaya sekolah yang baik. Tanpa adanya kohesivitas dari semua komponen sekolah, sekolah akan mengalami suasana kebingungan, warga sekolah akan mengalami ketidakjelasan arah, dan tidak tahu ke mana arah yang harus dituju.
Melalui pemodelan (modeling), pengajaran (teaching), dan penguatan (reinforcing), di tambah dengan semangat dan kolaborasi semua komponen sekolah, terwujudnya budaya sekolah berbasis karakter terpuji bukanlah angan-angan yang kosong. Bangsa ini memang harus menjadikan sekolah-sekolah sebagai lahan yang subur dengan memberikan pemupukan yang baik demi terwujud budaya sekolah yang luhur. Setiap pihak harus siap untuk berubah dan melakukan perubahan ke arah tersebut.

Daftar Pustaka:

Callicoatte Picucci, Ali dkk. 2002. Shaping School Culture. Texas: University of Texas.
Deal, Terrence E. dan Kent D. Peterson. 2009. Shaping School Culture: Pitfall, Paradoxes, and Promises. San Francisco: Josses-Bass.
Komaruddin Hidayat. 2010. “Kultur Sekolah”. http://www.uinjkt.ac.id/index.php/ category-table/1456-membangun-kultur-sekolah-.html.
Lickona, Thomas. 2004. “Make Your School A School of Character”, dalam Character Matters, www. Cortland.edu/character.
-------. (1991). Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.
-------. (1998). “Eleven Principles of Effective Character Education”, dalam Scholastic Early Chilhood Today, Nov/Dec. 1998: 13.3; ProQuest Education Journals.
Nur Syam. 2011. “Membangun Kultur Sekolah”. http://www.psb-psma.org/ content/blog/ 3460-membangun-kultur-sekolah.
Peterson, Kent D. and Terrence E. Deal. 2009. The Shaping School Culture Filedbook. San Francisco: Josses-Bass.
Shapiro, Seth. Wise Skills: Schoolwide Implementation. Santa Cruz: www. wiseskills.com.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Best Buy Printable Coupons